referer

PAS Langkawi - UPU Ulu Melaka


Embedded Image



TELAH BERPINDAH KE http://upu-ulumelaka.blogspot.com/
This div will be replaced

TELAH BERPINDAH KE http://upu-ulumelaka.blogspot.com/

SILA KLIK - SALURAN YOUTUBE TERPILIH
http://www.youtube.com/user/tvpas09
http://www.youtube.com/user/malaysiakini
http://www.youtube.com/user/greenboc
http://www.youtube.com/user/mediarakyat
http://tvkedah.blogspot.com/

padang.gaong@gmail.com

Pengakuan Bekas Penembak Tepat Israel Membunuh Rakyat Palestin

By ASYOK KUMAR

BEGINI ceritanya…

Dia disebut si J sahaja. Si J dan ahli kelab khas yang dilatih untuk membunuh. Tapi dikatakan kepadanya operasi itu berubah menjadi operasi penangkapan. Mereka hanya akan menembak jika orang yang menjadi target operasi yang mempunyai senjata di keretanya sahaja.

“Ketika itu kami sangat terkejut kerana operasi itu hanya sebuah operasi penangkapan, padahal kami ingin membunuh!" kata si J.

Mereka menuju Selatan Gaza dan mengambil tempat. Hari itu adalah 22 November 2000. Target utamanya adalah pejuang Palestin yang bernama Jamal Abdel Razeq. Beliau duduk di kursi penumpang dalam sebuah kereta Hyundai hitam yang sedang melaju ke arah Utara menuju Khan Younis bersama dengan temannya, Awni Dhuhair. Keduanya tidak tahu bahawa ada sebuah perangkap yang sudah menunggu di persimpangan Morag. Daerah itu berada di jalan raya Salahuddin yang mengarah ke Utara-Selatan, melewati pemukiman Yahudi.

Razeq sudah terbiasa melihat ada kendaraan APC (armoured personnel carrier) di pinggir jalan, tetapi beliau tidak tahu petugas yang biasanya berjaga di situ sudah diganti dengan ahli kelab khas angkatan udara Israel.

Termasuk di dalamnya paling sedikit 2 orang penembak tepat yang terlatih. Bahkan sebelum Razeq meninggalkan rumahnya di Rafah pagi itu, Shin Bet, intelejen Israel, sudah memantau gerak-gerinya dari tempat yang sangat tinggi. Dipermudah dengan komunikasi telefon bimbit Razeq bersama rakan dan salah seorang pamannya.

Petugas membunuh Razeq itu ‘sangat kagum’ dengan detailnya informasi yang diterimanya. Berapa gelas kopi yang diminum, bila akan berangkat, Razeq ada driver dan simpan senjata dalam beg bukan dalam kereta. “Dalam 20 minit kami tahu operasi tangkap itu akan dilakukan dengan mudah kerana mereka tiada senjata dalam kereta.” Kata si J lagi.

Tiba-tiba perintah itu berubah, jelas si J. “Kata mereka Razeq akan ke depan dalam seminit lagi.. kami diperintah membunuhnya.” Katanya, seolah-olah perintah itu keluar dari ruangan pengendali operasi yang telah disiapkan. Ada tanda-tanda semua pemimpin besar ada di sana, termasuk seorang brigadier jenderal. Kedua pejuang Palestin itu tidak curiga apa-apa, hingga sampai dekat simpang. Bahkan ketika truk pengangkut milik IDF (tentara Israel) bergerak perlahan memotong jalan mereka di persimpangan, mereka masih tidak tahu truk itu dipenuhi tentera Israel bersenjata lengkap yang sedang menunggu masa dan perintah.

Sementara itu sebuah kendaraan 4x4 siap-sedia berjaga-jaga tiap kemungkinan yang akan berlaku. Truk IDF itu terus bergerak cepat, bukan sahaja menghalang kereta Hyundai hitam, tetapi juga sebuah taxi Mercedes berwarna putih yang berada di depannya. Teksi itu membawa 2 penumpang, Sami Abu Laban 29 tahun seorang tukang roti dan Na'el Al Leddawi 22 tahun seorang mahasiswa. Mereka dalam perjalanan dari Rafah menuju Khan Younis untuk urusan mencari enjin diesel membakar roti.

Dalam masa cemas itu, tangan si J mulai bergetar. “..saya tunggu kereta itu datang, saya mula hilang kotrol atas kaki saya, saya pegang senjata M16 lengkap digicom (teropong khas tembak tepat), agak ganjil, saya tumpu terus, hitungan ke belakang pun dimulai. 2 kereta makin dekat, kereta pertama terlalu dekat dengan kereta kedua. Truk itu bergerak agak cepat sikit, menyebabkan dua mobil tersebut berhenti. Semuanya berhenti. 2 detik kemudian terdengar perintah 'tembak'. Siapa yang memberi perintah dan kepada siapa? 'Dari komandan kelab... kepada semuanya. Semuanya dengar.. Tembak!!”

Razeq yang menjadi target duduk di kerusi penumpang, paling dekat jaraknya dengan APC. “Saya yakin melihatnya dengan sangat jelas. Saya mulai menembak. Semua orang mulai menembak. Saya hilang kawalan. Saya tembak lebih dari 1 atau 2 detik. Lepas itu saya kira, ada 11 peluru di kepalanya. Sepatutnya cukup dengan sekali tembak sahaja. Tetapi saya sudah tembak selama 5 detik. Saya lihat melalui teropong, hanya tinggal separuh kepala. Boleh jadi waktu itu saya takut, terpaksa kuasai keadaan dengan terus menembak.” Si J terus bercerita.

Sepanjang yang dia ingat, perintah menembak bukan hanya ditujukan kepada penembak tepat yang berada di APC. Dia tidak tahu, adakah tentera yang berada di truk itu menembak kerana merasa ada yang menembak mereka dari arah kereta-kereta itu. Tetapi kata si J, setelah dia berhenti menembak, keadaan tambah parah. Tembakan semakin menjadi-jadi.

“Saya agak tentera yang berada di dalam truk mulai panik. Mereka terus menembak dan salah satu kereta itu mulai bergerak. Komandan berkata, berhenti.. berhenti.. berhenti.. berhenti! Beberapa detik kemudian tembakan baru benar-benar berhenti. Setelah itu saya melihat kedua kereta penuh dengan lubang bekas tembakan. Termasuk kereta pertama yang tidak sepatutnya berada di sana.”

Razeq dan Dhuhair tewas. Begitu juga dengan Abu Laban dan Al Leddawi. Ajaibnya, driver teksi Nahed Fuju, tidak luka. Si J ingat hanya ada 4 mayat yang tergeletak. “Saya sangat terkejut melihat mayat-mayat itu. Kelihatan seperti karung dan dikerumuni lalat. Kemudian mereka bertanya siapa yang menembak kereta pertama [teksi Mercedes], tak ada seorang pun yang menjawab. Saya agak semua orang bingung. Sudah sangat jelas situasinya menjadi kacau dan tak ada seorang pun yang mengakuinya. Namun, komandan tidak melakukan debriefing formal hingga kami kembali ke markas.”

"Komandan memasuki ruangan dan berkata, selamat! Kita dapat telefon dari Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan serta Ketua Staf. Mereka semua ucapkan selamat. Misi kita berhasil dengan sempurna. Terima kasih! Dari situ saya tahu mereka sangat puas.” Si J memberitahu hanya ada perbincangan setelah operasi itu selesai. Membahas resiko terjadinya ‘friendly fire’, kerana salah satu kendaraan IDF terkena peluru yang memantul, membuat seorang tentera kesal sehingga turun dari kendaraan 4x4nya kemudian menembak lagi mayat-mayat yang sudah tergeletak tidak berdaya itu.

“Macam mereka mahu orang-orang Palestin tahu yang kami sedang meningkatkan perlawanan kami. Rasa mendapat kejayaan besar.. dan saya menunggu akan dilakukannya evaluasi terhadap operasi itu, akan ada pertanyaan-pertanyaan, atau penyesalan atas kekeliruan yang terjadi. Tetapi ternyata tidak ada sama sekali. Saya hanya rasa satu hal, komandan tahu operasi itu merupakan sebuah kejayaan politik yang besar bagi mereka.” Si J melaporkan kesannya.

Insiden itu disesalkan beberapa pihak. Mohammed Dahlan, yang kemudian menjadi Ketua Keamanan di Gaza dari paksi Fatah, menyebutnya sebagai ‘pembunuhan barbar’. Brigadier Jenderal Yair Naveh komandan IDF di Gaza pula, memberikan alasan kepada media, bahawa operasi itu pada awalnya merupakan operasi penangkapan, namun kemudian sesuatu yang aneh terjadi. Razeq mengambil senjata Kalasnikovnya dan berusaha menembak tentera Israel. Maka kerana itu tentara Israel menembak keretanya. Razeq disebut sebagai target utama, sementara 2 orang korban yang berada di dalam teksi disebut sebagai aktivis Fatah yang ada hubungan dengan Razeq.

Namun ayah Al Leddawi mahasiswa itu mengatakan, anaknya berada di tempat dan waktu yang salah semasa peristiwa tragis itu terjadi. Mereka tidak kenal 2 orang target utama Israel itu. “Mereka hanya kebetulan berada di sana. Keluarga ini tidak ada hubungannya dengan para pejuang itu," katanya.

Sementara driver teksi itu pula, dia tidak dapat kompensasi apapun dari Israel mengenai peristiwa itu, dan ia tidak mahu berbicara dengan akhbar Inggeris ‘The Independent’ di Rafah. “Anda mahu mewawancarai saya, agar Israel dapat mengebom rumah saya?” Jelasnya dalam sindiran.

Tulisan ini adalah wawancara pengakuan dengan seorang mantan anggota skuad pembunuh Israel, yang menjadi saksi kepada organisasi bekas anggota tentera Israel, Breaking the Silence. Mantan penembak tepat ini, disebut nama si J, untuk pertama kali bercerita tentang sebuah operasi pada tahun 2000 ketika Intifada dimulai. Operasi yang meninggalkan luka psikologi dalam, sehingga kini tidak berani bercerita kepada orangtuanya di mana dia terlibat dalam sebuah operasi pembunuhan.

Operasi pembunuhan 2 anggota HAMAS dan 2 rakyat Palestin yang tak berdosa. Dia tidak berani menampilkan identitinya, sebab secara teori berdasarkan hukum internasional dia boleh dituntut atas operasi pembunuhan itu. Usia si J sekitar 30an. Berasal dari keluarga harmonis dan sekarang tinggal di Tel Aviv sebagai rakyat awam. Dipetik dari akhbar Inggeris The Independent, pada awal Mac 2009.(AK)


Sumber: http://www.ibnuhasyim.com/2009/04/pengakuan-bekas-penembak-tepat-israel.html

0 comments:

Leave a Reply